Ubah Sampah Jadi Berkah untuk Menjadi Modal Main Judi Online

Ubah Sampah Jadi Berkah untuk Menjadi Modal Main Judi Online – Rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah ke tempat yang tidak semestinya, membuat anak-anak muda ini tergerak hatinya untuk membentuk sebuah komunitas peduli sampah. Mereka sadar, kegiatan membuang sampah sembarangan ini telah menimbulkan banyak efek negatif. Sampah tak hanya membuat area sekitar bau dan merusak pemandangan, tetapi sudah merambah ke banyak aspek kehidupan. Sampah menyebabkan banjir, pencemaran air tanah, penyakit menular, kepunahan ikan di sungai, hingga membuat pencitraan yang buruk untuk sebuah kota. Berbekal latar belakang ini dan didukung dari hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2005, anakanak muda ini membentuk sebuah komunitas bernama Gerombolan Peduli Sampah (Gropesh). Adalah Romo Al. Andang L. Binawan SJ, aktifis rohaniawan penyelamatan lingkungan hidup, yang memprakarsai lahirnya Gropesh.

Ubah Sampah Jadi Berkah untuk Menjadi Modal Main Judi Online

Siapakah Gropesh?

Gropesh didirikan pada tanggal 25 Maret 2007. Anggotanya adalah anak-anak muda Katolik dari seluruh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Program utamanya adalah mengajak semua orang untuk lebih peduli terhadap sampah dan bagaimana cara memanfaatkannya, yaitu dengan cara mengubah barang yang terbuang ini menjadi sebuah berkah yang bermanfaat. “Langkah konkret itu kami tuangkan ke dalam visi-misi kami, yaitu meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota Gropesh melalui kampanye 3R+R —Reduce, Reuse, Recycle dan Replant—,” ucap Yohanes Kukuh Dian Prastyo, Humas Gropesh. Pelajaran pertama adalah mengenalkan jenis sampah, yaitu sampah organik dan anorganik. Setelah paham, pelajaran kedua adalah bagaimana memanfaatkan kedua jenis sampah tersebut. Sampah organik ini adalah sampah yang bisa diuraikan, seperti makanan sisa, sayuran busuk, dan lainnya. Sampah ini dimanfaatkan untuk membuat kompos. Sedangkan untuk sampah anorganik, yaitu sampah yang sulit diurai, seperti bungkus makanan/minuman, kantong plastik, dan sebagainya, dimanfaatkan untuk kerajinan, seperti tas, gaun unik, dan masih banyak lagi. Bahkan, Gropesh memfasilitasi untuk menjual karya dari barang bekas ini ke masyarakat umum.

Sempat Terjadi Perubahan Nama

Semenjak didirikan tahun 2007, Gropesh tumbuh dengan pesat hingga menjadi komunitas yang tidak hanya berkaitan dengan masalah keagamaan saja. Bahkan, walau diawali dari gereja, mereka juga mulai membuka keanggotaan dengan latar belakang agama nonkatolik. “Keanggotaan kami saat ini sifatnya terbuka karena masalah sampah ini masalah bersama. Jika anak-anak muda peduli dengan sampah, maka lingkungan dapat lebih baik lagi,” ucap Kukuh. Dan pada tanggal 24 September 2010, Grombolan Peduli Sampah ini berubah nama menjadi Gerakan Orang Muda Peduli Sampah—masih bersingkatan Gropesh. Yang merubah nama ini adalah Romo Al. Andang sendiri karena kata “Gerombolan” memiliki makna negatif. Ini juga hasil masukan dari banyak orang yang ingin Gropesh lebih baik lagi.

Aktivitas Beragam

Sampai saat ini, sudah banyak kegiatan yang dilakukan oleh Gropesh, misalnya mengadakan aksi penyadaran di sekolah-sekolah seperti di St. Yakubus, Santa Ursula, Tarakanita, Atma Jaya, dan masih banyak lagi. Kegiatan ini memang ditujukan lebih banyak ke anak muda karena mereka adalah generasi bangsa yang perlu mengerti bahaya sampah dan pemanfaatannya. Tak sekadar diskusi atau penyuluhan, Gropesh juga membuat pelatihan seperti cara membuat pupuk kompos skala rumah tangga, kompos metode Takakura, penggunaan bor biopori, kerajinan tangan dari bahan-bahan sampah non-organik dan cara pemilahan sampah khususnya pada anakanak. Bahkan, mereka juga sempat terjun langsung membersihkan kali Ciliwung Jakarta dari sampah. Gropesh menyadari, apa yang dilakukan mereka tak akan berarti tanpa dukungan semua. Jadi, mari kita jaga lingkungan dari diri kita sendiri dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *