Memahami Infeksi Torch

Biasanya, saat pertama kali memeriksakan kehamilan, dokter obgin akan meminta Mama menjalani serangkaian pemeriksaan. Salah satu nya, pemeriksaan TORCH. Bagi mamil umumnya, istilah TORCH boleh dibilang tak asing lagi lantaran dampak yang ditimbulkannya tidak mainmain, yakni kecacatan pada janin. Namun, apa itu TORCH, bagaimana mamil bisa terinfeksi TORCH, bagaimana mengatasinya, masih menjadi pertanyaan besar bagi ba nyak mamil. Yuk, Ma, kita kupas tuntas bersama dr. Rahayuning Indit Pramesti, SpOG melalui tanya-jawab berikut ini.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

# Mengapa mamil harus menjalani pemeriksaan TORCH? Pemeriksaan TORCH bertujuan untuk mendeteksi infeksi TORCH, yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan virus Herpes. Khusus Mama yang baru atau sedang hamil, bila hasil sebelumnya negatif atau belum diperiksa, idealnya dipantau setiap tiga bulan sekali. # Apa tanda-tanda atau gejala terinfeksi TORCH pada mamil?

Penderita TORCH kadang tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, bahkan bisa jadi sama sekali tidak merasakan sakit. Secara umum, keluhan yang dirasakan adalah: mudah pingsan, pusing, vertigo, migrain, penglihatan kabur, pende ngaran terganggu, radang tenggorokan, radang sendi, nyeri lambung, lemah lesu, kesemutan, sulit tidur, epilepsi, dan berbagai keluhan lainnya. Namun begitu, gejalagejala tersebut belum tentu dapat dijadikan sebagai bukti adanya penyakit TORCH sebelum dilakukan uji laboratorium. Jadi perlu dilakukan diagnosis laboratorium berupa pemeriksaan darah.

# Apa saja pemeriksaan darah yang dilakukan? Pemeriksaan darah ini untuk mengukur titer-titer antibodi IgM (Imunoglobulin M) atau IgG-nya (Imunoglobulin G). • Untuk mendeteksi infeksi toksoplasma dilakukan Anti-Toksoplas ma IgM dan AntiToksoplasma IgG. • Untuk mendeteksi infeksi rubela dilakukan pemeriksaan Anti-Rubela IgM dan Anti-Rubela IgG • Untuk mendeteksi infeksi sitomegalovirus dilakukan pemeriksaan Anti-CMV IgM dan AntiCMV IgG.

  • Untuk mendeteksi infeksi virus Herpes dilakukan pemeriksaan Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG Diagnosis dilakukan dengan tes ELISA. Normalnya, baik IgM maupun IgG menunjukkan hasil negatif. Jika hasilnya positif, maka antibodi IgM menunjukkan angka 40 (10,52%) untuk toksoplasma; 102 (26,8%) untuk rubela; 32 (8,42%) untuk CMV; dan 14 (3,6%) untuk HSV-II. Sedangkan antibodi IgG yang postif menunjukkan angka 160 (42,10%) untuk toksoplasma; 233 (61.3%) untuk rubela; 346 (91.05%) untuk CMV, dan 145 (33.58%) untuk HSV-II

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *