Isi Dengan CEO Muda Cemerlang

Konon Tim Transisi JokowiJK menerima usulan seribu calon menteri dari kalangan profesional, mengerucut jadi 200 calon dan kini tinggal 80 calon yang dimintakan klarifkasi kebersihannya kepada KPK dan PPATK. Tim Transisi, yang sering diplesetkan jadi Tim Transaksi harus menyeleksi menjadi 18 nama untuk 18 pos menteri.

Baca juga : Net89

Banyak yang ingin jadi menteri, mengirim berkas berisi “kualitas dan kapasitas”-nya, sambil melampirkan foto ia ketika berada di luar negeri. Padahal, luar negeri bukan ukuran kehebatan, sebab tukang bubur pun bisa pergi ke luar negeri, bisa pergi haji. Selain lingkaran dekat, semisal tim sukses yang seharusnya sudah dibubarkan tetapi merasa berhak mendapat jabatan, banyak pahlawan kesiangan, yang baru merapat ketika Jokowi-JK jelas akan dilantik 20 Oktober mendatang.

Mereka memanfaatkan media sosial, membuat blog, mencari dukungan lewat dunia maya, tetapi tidak mampu melihat sisi kekurangan dirinya. Tidak terhitung mantan CEO (chief excecutive offcer) masa lalu, out going generation, yang masih haus kekuasaan. Mereka bersedia menggelontorkan hartanya dan sisa kekuasaannya, menjadi anggota tim sukses pada masa kampanye sebagai tangga memanjat ke jabatan kabinet Jokowi-JK, mengesampingkan faktor usia yang tidak mungkin dipoles dengan cara apa pun.

Konon Jokowi-JK membatasi usia calon menterinya maksimal 65 tahun yang sebenarnya terlalu uzur bagi jabatan publik yang perlu fsik kuat dan otak jernih. Mantan Presiden BJ Habibie malah menganggap usia di atas 60 tahun sebaiknya tidak usah lagi berambisi atau diangkat jadi anggota kabinet. Orang bilang para mantan ini menderita sindrom pasca berkuasa, post power syndrom yang kadang hanya sekadar ingin tetap dianggap bos, tetapi ada yang ingin tetap secara fisik menjadi petinggi dengan segala cara.

Para penderita sindrom selalu menganggap dia yang paling berpengalaman, anak-anak muda masih perlu dibimbing. Dunia sudah berubah, teknologi makin maju, perekonomian tumbuh dengan cara yang lebih modern. Dalam beberapa kasus, pemimpin muda enggan mendengar petuah para tetua dan kalaupun terpaksa menghadapinya mereka tidak akan konfrontatif tetapi tidak bersedia menjalankan apa yang dipetuahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *