Menangkal si Manis dengan si Pahit

Menangkal si Manis dengan si Pahit

World Health Organization (WHO) memperkirakan jum lah pengidap Diabetes Me litus (DM) tipe 2 di Indonesia akan me ningkat signifikan hingga 21,3 juta ji wa pada 2030. Menurut Machendra, Direktur PT Herbal In sani, klinik dan herbal di Depok, Jabar, Indonesia termasuk negara dengan prevalensi diabetes (kencing manis) tertinggi nomor 4 di dunia setelah India, Tiongkok, dan Ameri ka Serikat.

International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan, prevalensi DM tipe 2 di dunia sebesar 1,9% yang men jadikan penyakit ini sebagai penyebab kematian urutan ke-7 sejagat. DM tipe 2 adalah penyakit gang guan metabolik yang ditandai dengan kenaikan gula darah (hiperglikemia) akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan atau gang guan insulin (resistensi insulin).

Penyakit ini disebut juga the silent killer karena dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Pembusukan parah yang terjadi akibat kencing manis tak jarang mengharuskan pasien menjalani amputasi anggota tubuh. Bisa dengan Herbal Machendra yang membuka kliniknya sejak 2008 ini mengaku sering menerima pasien diabetes. “Penderitanya cu kup banyak. Kita sudah punya formulasi sendiri untuk perlakuan terhadap pasien diabetes.

Tergantung kadar gula yang diderita si pasien. Kalau kadar gula rendah bisa menggunakan her bal saja, kalau tinggi bisa dikombinasikan dengan bekam dan pijit,” jelasnya kepada AGRINA (20/6). Untuk kadar gula yang berkisar 200- 300 mg/dL, lanjut Machendra, pengobat annya cukup menggunakan ra muan herbal. Bila sudah mempenga ruhi sistem saraf yang menyebabkan baal, kakukaku, komplikasi mengarah ke penyakit jantung, dan stroke, harus dikombinasikan dengan bekam dan pijit. “Kita menggunakan metode peng obatan tradisional.

Kombinasi pengobatan tergantung kebutuhan si pasien,” terangnya. Dari kalangan ilmiah, Asian Pacific Journal of Tropical Disease (2013) men catat, pare (Momordica charantiaI) telah digunakan secara global sebagai obat diabetes. Jurnal internasional menyebutkan senyawa bioaktif yang terbukti memiliki aktivitas antidiabetes adalah karantin, polipeptidap, dan visin. Machendra menjabarkan, buah dan biji pare dapat digunakan sebagai pence gahan dan pengobatan terhadap DM tipe 2.

“Dua-duanya bisa digunakan cuma memang ada kontraindi kasinya. Pare bisa menghambat kesubur an atau pertumbuhan sel sperma pada pria. Kalau ke perempuan tidak apa-apa,” paparnya. Pembuatan Untuk herbal, Mahendra menganjurkan buah pare yang segar dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran sebaiknya di bawah plastik hitam atau kain hi tam untuk mengurangi efek radiasi UV matahari. Kemudian setelah kering, pare diblender hingga menjadi tepung.

Tepung pare lalu disaring dengan ayakan. “Ayakan bisa menggunakan yang ber ukuran 40 mesh atau 60 mesh, tapi yang umum itu biasanya ayakan dengan ukuran 60 mesh. Setelah diayak nanti tepung pare bisa dimasukkan ke dalam kapsul,” jelasnya. Untuk pencegahan, kapsul pare dapat dikonsumsi dua-tiga hari sekali atau sebagai pendamping saat mengon sumsi makanan atau minuman de ngan kadar gula yang tinggi.

Sedangkan untuk pengobatan, kapsul dikonsumsi pagi dan sore hari. Namun, bila kadar gula mencapai 400-500 mg/dL, dosisnya bisa ditingkatkan hing ga tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore. Tepung pare juga bisa disajikan de ngan melarutkan satu sendok makan penuh atau dua sendok makan datar ke dalam air satu gelas penuh. Waktu kon sumsi pare, menurut Machendra, sebaiknya dua jam setelah konsumsi obat sintetis. Alasannya, untuk meng hindari kontraindikasi dengan obat sintetis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *